Friday, October 31, 2014

Mencegah Asma: Hindarkan Bayi Anda dari Tungau Debu

TEMPO Interaktif, Isle of Wight - Menghindari makanan tertentu dan tungau debu selama bulan-bulan pertama kehidupan bayi dapat membantu mencegah asma. Demikian temuan peneliti Inggris seperti dikutip Medical News Today 14 Juni 2010. Tungau debu (Dermatophagoides pteronyssinus) merupakan binatang sejenis kutu yang ukurannya sangat kecil, berwarna merah sering terdapat pada kulit ayam.

Profesor Syed Hasan Arshad dan rekannya dari Pusat Alergi dan Asma David Hide, Isle of Wight, Inggris telah melacak 120 anak sejak tahun 1990 di Studi Pencegahan Primer Isle of Wight. Anak-anak -- yang memiliki dua atau lebih anggota keluarga yang memiliki gangguan alergi -- dianggap berisiko tinggi terkena penyakit alergi.

Profesor Arshad mengatakan: "58 bayi sampai satu tahun dan ibu mereka pada kelompok pencegahan mengikuti diet yang menghindari produk susu, kedelai, dan kacang. Kami memeriksa kepatuhan mereka dengan pengujian ASI secara acak."

Bayi juga diberikan selimut dan kasur vinil (serat sintetis), serta acracide yang digunakan untuk mengurangi tingkat tungau debu. Para ibu dari 62 bayi dalam kelompok kontrol tidak membuat perubahan untuk makanan mereka dan juga tempat tidur (kasur dan selimut).

Para peneliti menemukan bahwa di kelompok pencegahan, pada anak umur satu, dua, empat, dan delapan tahun, terjadi penurunan atopy (reaksi alergi segera) secara konsisten. Pada usia 18 tahun, terdapat lebih sedikit asma pada kelompok pencegahan dibandingkan dengan kelompok kontrol. Analisis lebih lanjut mengenai asma alergi dan asma non-alergi menemukan tingkat yang lebih rendah asma alergi pada kelompok pencegahan.

Penelitian yang dilakukan sebelumnya telah menunjukkan kompleksitas asma dan pentingnya interaksi antara faktor genetik dan faktor lingkungan pada khususnya, tetapi tidak eksklusif, di tahun-tahun awal kehidupan. Atopy ini bisa dibilang faktor risiko genetik untuk asma yang paling signifikan. Meskipun upaya intensif untuk mengembangkan pengobatan baru, asma masih merupakan penyakit yang tak tersembuhkan.

Wednesday, October 15, 2014

tahapan perkembangan membaca dan menulis anak

Sudah mulai memasuki masa penerimaan siswa baru niy..
Orang tua sudah mulai galau..
Salah satunya pertanyaan yang sering muncul..


“Anak saya umurnya sudah 5 tahun, tapi dia belum lancar membaca. Tulisannya juga masih jelek. Padahal untuk masuk SD favorit yang diincar, dia harus menjalani tes membaca, menulis, dan matematika! Tiga bulan lagi kami sudah harus mendaftarkannya… Bagaimana ini?”

Membaca, menulis, dan berhitung dahulu baru mulai diajarkan pada tahun pertama sekolah dasar. Saat itu usia masuk SD yang berlaku secara luas adalah 6,5-7 tahun. Tetapi sekarang, banyak SD yang mensyaratkan anak sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung untuk dapat diterima di sekolah tersebut. Usia memulai pendidikan dasar juga telah bergeser; anak yang belum genap berusia 6 tahun sudah dapat diterima di beberapa SD tertentu. Fenomena ini tidak jarang menimbulkan kepanikan orangtua, ditambah lagi dengan menjamurnya kursus-kursus baca-tulis-hitung yang ditujukan untuk anak usia prasekolah. Benarkah anggapan bahwa “lebih cepat lebih baik”? Kapan sebenarnya anak siap untuk belajar hal-hal di atas?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mengenal tahapan normal perkembangan membaca dan menulis pada anak. Pada tiap tahapan, ada beberapa aktivitas yang dapat kita lakukan bersama anak untuk menunjang perkembangan baca-tulisnya.

Membaca dan menulis
Usia 2-4 tahun
Anak usia prasekolah masih sibuk mengembangkan kemampuan bicara dan bahasanya. Perkembangan bahasa terkait erat dengan perkembangan kemampuan membaca di kemudian hari. Pada usia ini, membacalah kepada anak Anda sesering mungkin untuk menumbuhkan minat bacanya dan memperluas kosakatanya. Lebih rinci mengenai perkembangan bicara dan bahasa dapat dibaca di sini.
Pada usia ini anak dapat mulai mempelajari keterampilan motorik halus dasar yang diperlukan untuk belajar menulis nantinya (pre-writing skills). Keterampilan-keterampilan tersebut misalnya belajar menarik garis, menggambar lingkaran, dan menghubungkan titik-titik. Mewarnai juga menunjang perkembangan keterampilan ini. Gunakan alat tulis dengan pegangan gemuk agar lebih mudah dipegang oleh anak.

Usia 4-5 tahun: Pre-reading skills
Usia taman kanak-kanak adalah usia yang baik untuk memperkenalkan anak pada dasar-dasar baca-tulis (pre-reading skills): pengenalan huruf dan angka, mendengarkan sajak berima, mencocokkan kata-kata dengan bunyi awal atau akhir yang sama (“buku” dan “bulan,” “tarik” dan “naik”). Bila anak sudah dapat mengeja suku kata (“b-a, ba”), tidak lama kemudian ia akan dapat membaca kata-kata sederhana (ibu, sapi, babi). Pada usia ini baik juga untuk memperkenalkan anak pada bagian-bagian buku: sampul depan, judul, pengarang, sampul belakang.

Anak mungkin mulai tertarik untuk menulis beberapa huruf dan angka. Ia makin nyaman menggunakan alat tulis. Untuk menunjang keterampilan ini, anak dapat diberikan permainan mencari jalan atau menghubungkan titik-titik untuk membentuk huruf dan angka.

Usia 6-7 tahun: Belajar membaca dan menulis
Pada tahun pertama SD, makin banyak kata yang dibaca oleh anak. Anak mulai dapat mengenali kata tanpa harus mengeja terlebih dahulu dan mengerti makna sebagian besar kata dan kalimat yang dibacanya. Pada pertengahan tahun pertama, ia dapat membaca sendiri buku-buku sederhana. Pada usia ini, sediakan untuk anak bacaan yang bervariasi, dapat berupa buku atau majalah. Manfaatkan perpustakaan sekolah semaksimal mungkin.

Pada usia ini anak sudah mahir memegang pensil atau pena. Pada akhir masa ini, anak sudah mahir menulis, dengan tulisan yang dapat dibaca.

Usia 7-8 tahun: Belajar membaca tingkat lanjut
Makin banyak kata dan kalimat yang telah dibaca oleh anak usia ini. Dengan membaca, anak memperluas kosakata dan pengetahuannya tentang dunia di sekitarnya. Anak dapat membaca keras-keras dengan ekspresi dan sudah memiliki preferensi buku atau cerita yang disenanginya. Bila membaca cerita, anak sudah dapat mengidentifikasi tokoh, setting, dan peristiwa-peristiwa di dalamnya. Pada akhir masa ini, biasanya anak sudah dapat membaca sendiri dengan lancar.

Usia 8 tahun ke atas
Setelah usia 8 tahun, anak sudah mahir mempergunakan keterampilan membacanya untuk belajar baik di dalam maupun di luar sekolah. Pada usia remaja, anak sudah mengerti sepenuhnya apa yang dibacanya. Jenis bacaannya pun bervariasi, mulai dari fiksi hingga nonfiksi.

Saturday, October 11, 2014

Tips Mengatasi Balita Ngompol

Pada umur 3 tahun, tiga dari empat anak sudah tidak mengompol pada malam hari.

Jika anak kita masih ngompol, bisa di coba beberapa cara ini...

1. jangan menampakkan raut muka marah atau kesal. mari ajak anak untuk mengganti sprei yg terkena ompol.. (etapi, kalau pakai sprei waterproof kan cukup ngelap ompol aja yah....)
bisa dengan mengganti baju kesayangannya.. sambil diomongi "adek pipisnya di toilet ya, klo pipis di celana spreinya jadi basah, baju adek juga basah" =====> dilakukan berulang2 setiap si kecil ngompol..

 2. ajarkan anak mengenali rasa ingin pipis dan ajarkan cara membuka celana. bikin rutinitas pipis sebelum tidur dan segera ketika bangun tidur. =======> JANGAN membangunkan anak di malam hari untuk pipis ke toilet, ini tidak memberi kesempatan anak untuk mengenali rasa ingin pipis.

3. ketika anak ngompol, bawa ke toilet untuk melanjutkan pipisnya atau langsung membersihkan badannya.

4. berikan sarana penduduknya, misal belikan alas duduk closet untuk anak (ada yg portable)

5. Berikan pujian dan pelukan setiap anak berhasil tidak ngompol. hal ini akan memotivasi anak.


Tuesday, October 7, 2014

Bikin Playdough di Rumah

Mainan playdough memang sangat disukai anak-anak..

melatih otot tangannya, belajar menekan, meremas dan membuat bentuk serta mengenal warna..

bunda bisa lho bikin playdough bersama si kecil, dirumah :)

Bahan2 nya mudah didapat di dapur bunda koq..

Resep bikin playdough
1 1/2 gelas tepung terigu
1/2 gelas garam dapur
1/2 gelas air
1/4 gelas minyak goreng
Kunyit untuk pewarna kuning
Daun pandan suji untuk pewarna hijau (bisa jg menggunakan pewarna makanan)

Cara bikinnya, tepung terigu dan garam dicampur dan aduk sampai rata.. 
kemudian masukkan minyak dan air..
aduk sampai tercampur rata..
pisahkan menjadi 3 bagian..
Untuk kemudian di beri warna..

selamat bermain..
Ayooo bikin bentuk kesukaanmu bersama bunda..










Liburan ke sea world Ancol

Bulan juni 2014 yang lalu..

Kami jalan-jalan ke sea world Ancol..

Kami sengaja datang pagi, supaya lebih leluasa melihat lihat biota laut, sebelum pengunjung membanjiri lokasi..

Dan yang pasti, supaya bisa melihat "fish feeding"

Ketika jam 10.45 pengunjung sudah mulai berkumpul didepan aquarium utama..
Seperti biasa, ada challenge dari kakak pemandu

Surprise banget..
Anja yang berada dibarisan paling depan bersama adek zahra.. berani dan percaya diri menjawab pertanyaan..

 
Good job anja..



Liat kakak penyelam lg kasih makan ikan.. seru yah...

 

Yang tak boleh ketinggalan adalah menengok teh parni (alm)









Bikin Bubble Sendiri Yuuuk

Kakak anja libur 3 hari...
Biar ga bosen..
Ada beberapa kegiatan yg jarang dilakukan...

Kalau biasanya kami membeli bubble di toko mainan..
Hari ini anja bersama bunda membuat"bubble"

Mau tau resep nya?
Siapkan bahan-bahan nya dulu yuuuk :
1. Sabun mandi (iris tipis/bisa juga pakai sabun mandi cair)
2. Segelas air
3. Gula pasir secukupnya


Campur dan larutkan semua bahan..
Gunakan sedotan untuk meniup... Bisa juga menggunakan karet yg diikat pada kayu...

Ayoooo kita mandi bubble


Thursday, May 8, 2014

Diare dan Muntah

Diare dan muntah itu anugerah.
Kenapa?
Karena diare dan muntah, sama dengan batuk dan pilek, bukanlah penyakit, melainkan gejala.
Ada yang salah dengan system pencernaan kita, ada infeksi di sana, ada racun yang bersemayam di perut kita.

Dan secara alami, tubuh kita bereaksi untuk mengeluarkan racun tersebut dalam bentuk diare dan muntah.

Apa itu diare?
Kita disebut dengan diare bisa feses kita full air, tanpa ampas sama sekali. Bila masih ada ampas, bukan diare namanya.

Kenapa bisa diare (dan muntah)? Seperti dibilang di atas, diare dan muntah adalah mekanisme tubuh mengeluarkan racun dari system pencernaan kita. Diare dan muntah itu gejala.

Penyakitnya adalah infeksi. Bisa infeksi bakteri, bisa infeksi virus. Bisa pula karena alergi. Kalo yang terakhir ini, Cuma bisa sembuh kalo pencetusnya dihindari.

Diare bisa pula karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat.

Boleh gak diare (dan muntah) dihentikan?

JANGAN! Bayangkan kalo di dalam perut ada racun, terus kita muntah dan mencret untuk mengeluarkan racun itu.
Tapi, kita stop diare (dan muntah)-nya dengan obat-obatan tertentu, akibatnya, racun itu gak bisa keluar, tetep ngendon di perut kita.
Akhirnya, sakitnya gak beres-beres…

Mau, gitu?

Terus, gimana nanganin diare (dan muntah)?

Diare (dan muntah) itu berbahaya bila terjadi dehidrasi.

Dehidrasi itu adalah kejadian di mana tubuh kita kekurangan cairan.
Maka dari itu, bila kita diare (dan muntah) atau ada anggota keluarga kita yang terkena diare (dan muntah), berikan cairan rehidrasi (kita kenal dengan ORALIT dan kawan-kawannya), awasi terus dan waspada, jangan sampai muncul tanda-tanda dehidrasi.

Gimana tanda-tanda dehidrasi?
Tidak buang air kecil > 8 jam,
bibir kering,
air mata kering ketika menangis,
skin turgor menurun (jika tangan dicubit, tidak akan kembali seperti semula), mata cekung,
abdomen (sekitar perut) cekung,
fontanelle (ubun-ubun) pada bayi cekung.
Lalu kalau sudah muncul tanda dehidrasi, gimana?

JANGAN PANIK!!! Segera bawa pasien ke UGD (bukan dokter praktik).

Tapi kita juga bisa menghubungi dokter bila:
- Ada darah di feses atau feses berwarna hitam
- Luar biasa mengantuk, sulit dibangunkan
- Luar biasa lemas, layu

Jadi, gimana menangani pasien muntah dan diare?
Berikan oralit sesering mungkin, dan bila masih ASI, berikan ASI sesering mungkin. Oralitnya bisa pake merk macem-macem, boleh pake yang mana suka.

Kita bisa membantu memadatkan feses dengan menerapkan diet B.R.A.T.Y. (banana, rice, apple, toast, yogurt) dan tempe.
Tapi kita tidak boleh mengonsumsi obat untuk menghentikan muntah dan diare, ataupun obat untuk memadatkan feses.

Jaga kebersihan, cuci tangan pakai sabun, karena penyebab diare dan muntah sangat-sangat mudah menular. Terutama pada pengasuh yang merawat pasien diare dan muntah, biasanya sang pengasuh tersebut sangat-sangat mudah tertular.